Unduh Aplikasi Nirvana

image Health

Health Category

Benarkah Konsumsi Kentang Goreng Secara Berlebihan Bisa Picu Kecemasan?

24 January 2024

oleh Tiara Yola

Share

Tweet

Salin Tautan

Ringkasan

Benarkah Kentang Goreng Picu Kecemasan?

Studi Kecemasan Akibat Gorengan

Sumber Referensi

Kentang goreng menjadi salah satu makanan ringan atau yang biasa disebut dengan cemilan favorit masyarakat di dunia, termasuk di Indonesia karena memiliki rasa dasar lezat dan gurih. 

Kentang goreng sendiri biasanya disajikan bersamaan dengan aneka bumbu dan saos yang membuatnya semakin kaya akan rasa.

Hingga saat ini, kentang goreng masih menjadi pilihan idaman bagi masyarakat, khususnya kaula muda saat bertemu dan berkumpul bersama teman-teman. 

Saat ini, kentang goreng pun disajikan dengan berbagai modifikasi rasa yang lebih bervariasi dan kekinian.

Namun sayangnya, tahukah kamu jika mengonsumsi kentang goreng terlalu banyak, bisa memicu kecemasan hingga depresi? 

Lebih jelasnya, simak penjelasan lengkapnya lewat artikel berikut ini.

Benarkah Kentang Goreng Picu Kecemasan?

Dalam sebuah studi di Hangzhou, China, yang diterbitkan dalam jurnal PNAS, para peneliti menemukan bahwa mengkonsumsi makanan yang digoreng. 

Khususnya kentang goreng, dalam intensitas waktu yang sering, bisa meningkatkan risiko kecemasan sebanyak 12 persen dan risiko depresi hingga 7 persen.

Peningkatan risiko itu sendiri disebutkan lebih terasa di kalangan pria muda dan konsumen yang lebih muda. 

Meski begitu, para ahli yang mempelajari mengenai nutrisi menyebutkan bahwa penelitian itu masih bersifat pendahuluan.

Disisi lain, juga masih belum jelas apakah gorengan yang menyebabkan masalah kesehatan mental, atau orang-orang yang mengalami gejala depresi atau kecemasan lah yang beralih ke gorengan.

Studi Kecemasan Akibat Gorengan

Adapun dalam proses studi ini diketahui telah mengevaluasi 140.728 orang selama 11,3 tahun. Dalam hal ini, dilakukan pengecualian terhadap peserta yang didiagnosis dengan depresi dalam tahun pertama. 

Sebanyak 8.294 kasus kecemasan dan 12.735 kasus depresi ditemukan pada mereka yang mengkonsumsi makanan yang digoreng.

Sementara itu, kentang goreng ditemukan secara khusus memiliki peningkatan risiko depresi sebesar 2 persen lebih tinggi daripada daging putih yang digoreng. 

Tak cuma itu, temuan ini juga menunjukkan bahwa partisipan yang mengkonsumsi lebih dari satu porsi gorengan secara teratur lebih cenderung merupakan pria yang lebih muda.

Menurut seorang spesialis pengobatan gaya hidup yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, Dr David Katz, seperti yang dikutip dari lifestyle.kompas.com, orang-orang yang memiliki gejala kecemasan dan depresi bisa beralih ke makanan yang menenangkan sebagai cara guna mengobati diri sendiri.

Lebih lanjut, Dr David Katz menuturkan bahwa dalam beberapa studi sebelumnya juga dikatakan bahwa makanan yang tidak sehat dan bernutrisi buruk bisa menurunkan suasana hati seseorang, serta memperburuk kondisi kesehatan mental.

Sementara dalam studi baru ini, para peneliti berpendapat bahwa akrilamida - bahan kimia yang terbentuk selam1a proses penggorengan - terutama pada kentang goreng, merupakan penyebab risiko kecemasan dan depresi yang lebih tinggi.

Kemudian dalam makalah terpisah yang dirujuk studi baru ini, para peneliti mengekspos zebrafish atau danio rerio pada bahan kimia tersebut. 

Selain itu, mereka juga menemukan paparan jangka panjang telah menyebabkan ikan tersebut tinggal di zona gelap di dalam tangki, sebuah tanda umum dari tingkat kecemasan yang lebih tinggi pada ikan.

Zebrafish sendiri juga menunjukkan berkurangnya kemampuan untuk menjelajahi tangki mereka dan bersosialisasi. 

Dalam hal ini, ikan yang terpapar bahan kimia tidak berenang berdekatan dengan zebrafish lainnya, meski diketahui membentuk kelompok-kelompok dengan spesies mereka.

Menurut Dr David Katz zebrafish dipilih karena mereka sudah diketahui rentan terhadap toksisitas akrilamida dan karena respons perilaku terhadap kecemasan mapan dan konsisten, sehingga menawarkan sumber data biologis dan perilaku.

Sementara Dr Walter Willett selaku Profesor epidemiologi dan nutrisi di Harvard T.H Chan School of Public Health pun menuturkan bahwa hasil studi itu harus dianggap sebagai penelitian yang sangat awal, khususnya kaitannya dengan makanan yang digoreng dan mengandung akrilamida.

Dr Walter Willett menerangkan bahwa efek kesehatan dari makanan yang digoreng akan sangat bergantung pada makanan apa yang digoreng dan jenis lemak apa yang digunakan untuk menggoreng. 

Akan tetapi, lonjakan ini sebagian diredam oleh lemak, yang akan disediakan oleh lemak dari penggorengan. Lebih lanjut, Dr Walter Willett juga mencatat bahwa akrilamida tidak hanya dihasilkan dari penggorengan, tetapi juga ada di dalam kopi. 

Hal ini dikarenakan pemanggangan biji kopi dan di dalam roti bakar, karbohidrat yang dipanaskan bersama dengan protein dapat menghasilkan akrilamida.

Namun, data zebrafish sulit ditafsirkan dalam kaitannya dengan kesehatan manusia karena kita jelas sangat berbeda, dan para penulis mengakui hal ini.

Meski begitu, salah satu penulis studi tersebut sekaligus peneliti di Zhejiang Yu Zhang University mengatakan kepada CNN bahwa masyarakat tidak perlu panik mengenai dampak buruk dari makanan yang digoreng. 

Dengan mempertahankan gaya hidup sehat dan mengurangi konsumsi makanan yang digoreng, bisa membantu meningkatkan kesehatan secara keseluruhan.

Sumber Referensi

Ryan Sara Pratiwi. 2023. Makan Kentang Goreng Bisa Picu Kecemasan dan Depresi, Benarkah? [online] (https://lifestyle.kompas.com/read/2023/04/26/050000420/makan-kentang-goreng-bisa-picu-kecemasan-dan-depresi-benarkah-?page=all diakses pada 19 Mei 2023)

Hari Ariyanti. 2023. Penelitian: Makan Kentang Goreng Bisa Picu Depresi (https://www.merdeka.com/dunia/penelitian-makan-kentang-goreng-bisa-picu-depresi.html diakses pada 19 Mei 2023)

article

Artikel Terkait Lainnya